Gunung ditanah kecil,
tetap diam ia,
dipanggil Ken pertama kali ia,
tepat dibarat,
dihari jum`at,
lahir Ia.
Lahirnya nyata sebagai anak kedua,
putra bungsu timurlaut dikira mulanya,
Panggil ia Tui, disambut gembira,
dikira Bapak awalnya putri bungsu untuknya,
logam kecil didasar danau,
ternyata Ia.
Musim dingin tak terduga,
air pasang dari utara,
anak ketiga Bapak lahir dari Istri kedua,
Putri bungsu dikira bapak untuknya,
sebut Ia putra tengah dengan nama K`an.
anak lelaki kedua bapaknya.
Diselatan dipanggil Ia dengan nama Li,
“tergantung kehendak putra tengah,
kilat dan api ditanganmu.”
Kata Bapak,
sebelum meninggalkan kehidupan
mayapada.
Barat gembira,
dikira putri bungsu itu ia,
kiranya logam kecil didasar danau,
anak lelaki itu,
bernama Tui,
begitulah setiap orang mengenalnya pertama kali.
Tanahbesar baratdaya,
nasib dibadan tangan penerima,
ia,
mudah mengalah sifat kasih Ibu,
ia,
K`un, putra tengah bernama Tui,
anak lelaki yang suka mengembara,
tak tentu tujuannya,
takdir hidupnya musafir,
kelana.
Tanahbesar baratdaya,
nasib dibadan tangan penerima,
ia,
mudah mengalah sifat kasih ibu,
ia,
K`un, putra tengah bernama Tui,
anak lelaki yang suka mengembara,
tak tentu tujuannya,
takdir hidupnya musafir,
kelana.
Panca kelana,
ia,
anak kedua yang bernama Tui,
lahir ditanah Jawa,
dinegeri Pajajaran,
orang Jepang biasa memanggilnya Itsu.
Ketika mereka melihatnya dibukit Go`,
berdiri sembunyi dari keramaian,
namun memandang jelas kehidupan.
Tui namanya,
ketika orang menyangka ia,
lelaki bernama Chen,
dan bukan Tui,
Almarhum bapaknya sengaja memberinya nama Tui (Chen),
Panca kelana,
yang lahir ditanah Jawa,
antara tanahkecil dan tanahbesar,
tetap diam Ia.
Logam kecil,
didasar danau,
Ia,
Putra tengah yang bernama Tui(Chen),
Lelaki yang suka mengembara.
http://sadoell77.wordpress.com